Bumerang di balik layar kaca


Suatu sore saat kami sedang duduk santai diruang keluarga, tiba tiba anak keduaku Ali, yang berumur 5 tahun berteriak lantang ""Dengan ijin Allah matilah kau Ahmad...!"" seraya mengarahkan ketapel kosong dengan serius ke arah adiknya yang berdiri tepat beberapa langkah didepannya, aku terkejut dan panik, tertegun mendengar kata katanya, rasa marah berusaha kutekan, pelan kuucap ""..Astaghfirullahaladziim."", ini memang bukan mutlak  salahnya, imajinasinya sedang berkembang, karena memang beberapa minggu ini hanya video kaset tentang kisah nabi Daud melawan raja Jalut itulah yang menjadi kesukaannya.
Kudekati dia, kuberi penjelasan sesuai pemahamannya tentang kenapa nabi Daud saat itu harus membunuh raja Jalut yang zalim sebagai penguasa melalui batu dan ketapel ditangan nabi Daud kecil pada masa itu.

Mempercayai anak-anak menonton sendiri lewat video atau televisi ternyata itu adalah kekeliruan, meskipun yang disaksikan merupakan film atau cerita anak anak. Kalau dibiarkan anak tidak akan pernah tahu baik dan buruk suatu tontonan, akibatnya mereka akan mengembangkan sendiri daya imajinasinya tanpa mengerti benar atau salah.
(gambar dari: theglamorai.blogspot.com)

Ya, terkadang kita lupa anak-anak perlu pendampingan orang tua saat menyaksikan suatu tontonan dilayar kaca untuk menjelaskan berbagai hal yang belum bisa dipahami anak, kesibukan orang tua pada pekerjaan tidak bisa dijadikan alasan untuk kemudian membebaskan diri dari tugas penting mendampingi mereka. Karena sebenarnya bukan hanya tayangan yang bernuansa 17 tahun keatas saja yang perlu disensor, tapi bentuk bentuk kekejaman lain seperti pukulan-pukulan keras, perkelahian yang berdarah-darah, perkataan perkataan kasar serta
 penghinaan terhadap sesuatu, semua hal tersebut hendaknya tidak menjadi tontonan anak, atau kalaupun terselip pada suatu tayangan maka disitulah orangtua dapat menjelaskan secara langsung saat sedang mendampinginya.

Disinilah peran orang tua di asah, sekaligus diuji sejauh mana kita mampu melayani setiap kebutuhan anak, karena dalam setiap interaksi dengan anak sang ibu bisa mempelajari karakter anak, minat dan bakat anak, cara berpikir dan kestabilan emosi anak, sehingga nantinya kita tidak perlu lagi panik bila mendengar kata-kata tak terduga keluar dari mulut sang anak atau bahkan tidak ada lagi kata-kata me-nyeramkan keluar dari mulut sang anak tercinta.
(Ummu Rafi)

Share this:

Posting Komentar

Total Pengunjung

 
Copyright © Al Husna Kuwait. Designed by OddThemes & Best Wordpress Themes 2018