Ego


Keinginan untuk menyendiri karena tak ingin terbebani dengan berbagai permasalahan orang lain adalah pilihan praktis yang menempatkan diri pada posisi tenang dan sepi. Karena dalam kelompok atau lingkup pergaulan luas sudah tentu akan terjadi banyak gesekan-gesekan yang bisa menimbulkan perselisihan, menciptakan sengketa. Pertemanan, persahabatan, memang membutuhkan kesinambungan sinergi dari dua kekuatan, fisik dan bathin, karena disana akan terjadi silaturahim  yang menuntut keikhlasan dan kerja lebih, saat seorang sahabat jatuh sakit, harus ada kekuatan dan keiklhasan untuk menjenguk dan mensupportnya agar bisa kembali sehat seperti sediakala. Saat teman dalam keadaan gundah menghadapi suatu masalah, sebagai teman dekat kitapun harus berusaha mencarikan jalan keluar dari permasalahannya. Tentu akan ada rasa lelah dari setiap aktifitas ekstra ini, jika dijalani dengan setengah hati, ada waktu dan tenaga lebih yang kita pergunakan. Beberapa kegiatan yang berkenaan dengan kelompok ini memerlukan kerelaan hati dalam menjalaninya, mengorbankan waktu kebersamaan dalam keluarga, menuntut kekuatan fisik tetap prima ditengah kegiatan wajib milik pribadi. Inilah bukti syiar seorang muslim, mengamalkan ukhuwah, bertenggang rasa, berlapang hati, menjalaninya hanya karena Allah semata, bukan karena takut kehilangan wibawa, bukan karena ingin dilihat banyak mata, tak akan ada kata lelah karena kekuatan iman yang mendasarinya. Dan secara naluri manusia memerlukan teman dalam hidup ini, untuk berbagi menumpahkan segala rasa susah maupun senang. Memang terkadang disuatu situasi timbul ego pribadi, berwujud antipati ataupun tak mau perduli pada keadaan sekitar, tenggelam dalam kesibukan duniawi dan urusan diri sendiri, namun suatu masa pasti terjadi, seorang akan berada pada titik terendah dalam kehidupan, merasa tak berdaya, kehilangan yang amat sangat, saat inilah timbul kesadaran akan kebutuhan berbagi. Tali silaturahim harus terus kita jalin karena proses kehidupan pun terus berputar, tak ada kenikmatan abadi yang akan terus kita miliki dan tak ada juga penderitaan sejati yang terus menerus menghampiri, pada arus pasang surut ini semuanya memberikan pelajaran.

 

Ketika

kita menyebar salam pada setiap muslim namun tak mendapat jawaban yang diinginkan, maka tak perlu ada sesal kenapa harus kumulai, karena kita percaya bahwa iman menyatukan irama hati dari berbagai macam orang yang beriman. Berprasangka baik lebih terpuji.

Ketika

kita memberikan bantuan atau materi, namun tak mendapat imbalan atau jawaban tanda terimakasih, pun tak perlu kecewa karena kestabilan iman tak pernah berhenti untuk produktif dalam memberi dan berbagi, membahagiakan sesama muslim begitulah intinya.

Ketika

permintaan maaf tak mendapat sambutan, memaklumi dengan bersabar lebih utama agar hati ini tidak menjadi keras, menciptakan kesabaran untuk menghasilkan kesabaran lain dengan kadar yang selalu lebih, jauhkan rasa marah, iri dan benci, karena dalam persaudaraan sesama muslim semua sifat buruk sedapat mungkin kita kubur dalam-dalam, Hadirkan selalu hati yang bersih. Berlatih dan terus berlatih untuk menghadirkan hati-hati yang suci, bersih dari dengki, banyak merenungi kisah para pendahulu, kisah para sahabat nabi yang rela mengorbankan diri sendiri demi untuk kebahagiaan teman atau saudara muslim lainnya. Melalui ukhuwah inilah pancaran keimanan seseorang dapat tergambar. Karena muslim yang baik adalah yang bisa memberikan manfaat lebih bagi muslim lainnya,dan muslim yang baik adalah yang dengan kehadirannya memberikan rasa aman dan nyaman pada keadaan sekitarnya. (Ummu Rafi)

Share this:

Posting Komentar

Total Pengunjung

 
Copyright © Al Husna Kuwait. Designed by OddThemes & Best Wordpress Themes 2018